[Ficlet] Between

original photo’s source DAY_GLO_6

October ©2017

Sebab itu adalah bagian dari kewajaran dalam hidup. Sekali atau berkali-kali mungkin manusia selalu dihadapkan dengan persoalan kecil yang dibiarkan jika terlihat baik-baik saja. Dijauhi jika terlihat tidak baik-baik saja. Namun bagi yang berjiwa pahlawan mungkin akan tetap didekati dan diselesaikan persoalan tersebut.

.

.

.

Setiap melewati perlintasan kereta dekat rumah saat berjalan pulang dari kantor aku selalu berpapasan dengannya. Sebenarnya tidak ada yang mencurigakan pada dirinya. Gerak-geriknya seperti orang normal kebanyakan. Pandangannya tegap ke depan. Tidak seperti pandangan kosong bercelah macam orang yang dimusuhi oleh cinta atau dijerat utang seumur hidup. Pancaran wajahnya juga biasa saja. Tidak terlalu datar ataupun terkesan mudah menebar senyum palsu. Tidak ada yang aneh memang.

Dalam seminggu setidaknya ada lima kali kami tidak sengaja bersemuka. Sekedar melihat mata satu sama lain dalam waktu yang teramat singkat. Aku sendiri tidak ingin berlama-lama menatap mata yang dibingkai oleh kacamata itu. Untuk apa pula? Kenal pun tidak, hanya sekedar tahu. Sekedar.

Tidak terjadi apa-apa di antara kami selang waktu satu bulan. Kami hanya terus didampingi waktu senja untuk sekedar berjalan saling melewati dengan melawan arah. Aku pun tidak menakarnya menjadi sebuah masalah. Sebab itu adalah bagian dari kewajaran dalam hidup. Sekali atau berkali-kali mungkin manusia selalu dihadapkan dengan persoalan kecil yang dibiarkan jika terlihat baik-baik saja. Dijauhi jika terlihat tidak baik-baik saja. Namun bagi yang berjiwa pahlawan mungkin akan tetap didekati dan diselesaikan persoalan tersebut.

Senja pada penghujung musim panas membawa angin yang cukup dingin. Menerbangkan bulu-bulu halus pada kembang ilalang yang berdiri di tepian rel kereta. Mencabut halus kuncup dandellion yang juga bergerombol malu-malu di bawah pintu penghalang otomatis. Lembayung berwarna jingga pekat seperti air teh mewarnai langit. Selama musim panas ini kira-kira begitu potret sore di kota kecil yang sudah aku diami selama hampir seperempat abad.

Pukul enam petang lewat semenit. Pintu penghalang otomatis kereta memberhentikan langkah para pejalan kaki. Aku merapatkan sweter hijau emerald pemberian nenek saat natal yang kami bisa rayakan untuk terakhir kalinya. Berharap serat-serat benang wol tersebut memeluk kulit tubuhku erat. Meninggalkan kesan hangat. Bunyi pertanda kereta akan lewat berteriak dengan teratur. Lampu sirine berwarna merah juga menyala berani.

Aku membetulkan letak kacamata yang agak melorot. Selagi itu pula aku mengira bahwa penglihatanku buram dan salah. Di seberang aku melihatnya sedang menatap ke arahku dengan lekat. Seolah-olah mangsa yang siap diburu hyena. Di balik bening persegi empat berbingkai dia melihatku baik-baik dan diakhiri anggukan singkat.

Tiba-tiba semuanya menjadi distorsi. Kebisingan di rel perlintasan kereta tidak aku beri kesan peduli lagi. Aku merasa agak risih, itu wajar. Aku menarik pegangan tas selempangku kencang-kencang. Sesekali meremasnya. Aku membuang pandang ke sebelah kanan dan kiri secara bergantian. Tidak ingin membalas mata yang menjajah di seberang.

Entah atas perintah siapa tetapi gelenyar aneh memenuhi sudut di dalam dadaku. Ketika sepasang mata itu masih memandangiku lekat, aku sendiri tidak harus berbuat apa. Selagi berharap kereta segera pergi melintas agar aku bisa ambil langkah seribu. Meninggalkan cecaran matanya. Atau apa aku harus lari saja? Tapi tunggu, mengapa pula aku harus kabur darinya. Toh, tampangnya bukan seperti seorang antek-antek penagih hutang.

Ketika seseorang sedang berada dalam masa terdesak pikirannya pasti selalu dibumbui oleh gagasan yang aneh. Aku mencoba membuat asumsi yang menenangkan diri. Aku tidak bisa main menilai orang melalui penampilan, bahkan pada orang yang tidak dikenal. Dan apa tadi aku bilang, terdesak? Mengapa aku harus?

Udara kosong itu aku lepas melalui mulut. Seolah mampu mengangkat pagar perlintasan belang yang membelakangi aku dan seorang lelaki paruh baya yang berdiri tidak jauh di samping. Diam dia berdiri sama sepertiku bersiap untuk angkat kaki. Bedanya ia tidak disidak oleh sepasang indera yang dari seberang mengunci peredaranku.

Lelaki paruh baya itu sudah berpindah tempat, meninggalkan kosong di sampingku. Saat ingin menyusul, langkah sepatu usang yang belum aku cuci satu bulan dihadang oleh sepasang sepatu datar dengan hiasan pita di tengah. Aku sudah menduga.

“Hm, anu, maaf aku bukan penguntit atau fan luar batas dirimu. Ini. Kau meninggalkannya di toko roti seberang Universitas Tokyo, sebulan yang lalu.”

Sekarang aku mengerti. Dia mengulurkan sebuah buku bersampul warna jingga dengan guratan nama Kazuo Ishiguro sebagai penulisnya. Aku ingin meneriaki si kebodohan dalam diriku karena sudah mengira yang tidak-tidak. Tanpa mengulur waktu aku menerima buku novel garapan seorang sastrawan yang baru saja menyabet gelar nobel sastra tahun ini yang baru diumumkan Jumat lalu.  Aku tersenyum kikuk dengan wajar dan mendistribusikan ucapan terima kasih kepadanya. Sambil mengucapkannya aku mengangkat muka dan mengabaikan lalu lalang cahaya sore di sekeliling. Yang terlihat di depanku adalah sosok perempuan mungil berkacamata. Rambut dikuncir kuda dengan anak-anak rambut yang mengintip. Aku terus menyapa imajinya seolah seperti teman lama yang menghilang entah di mana.[]

.

.

.

.

.

HALOOOOOOOOOOO!!!!! AKU KANGEN NULIS. AKU KANGEN KALIAN.

semoga kalian masih mengingatku karena aku selalu aku mengingat kalian 🙂

Advertisements

9 Replies to “[Ficlet] Between”

  1. Si akunya ini jaehyung apa ceweknya ya aku bingung
    Tapi plot twist sih hahaha narsis amat ya si akunya dikirain dikerjae Sasaeng eh ngembaliin buku doang ternyata
    Kamu suka day6 y? Aku baru suka blkgan huhu soalnya lagunya enak2
    Keep writing!

    Like

  2. Xiaaann, kangen banget sama wordpress sumpah. Aq lama tak bersua ngurus wp ku trmasuk baca2 tulisan di wp.
    Aq juga kangen tulisanmu. Ini plot twist nya bikin ngakak, padahal di awal2 udah doki-doki loh ini kokoro..

    Like

      1. asupan tak bergizi kalau punyaku mah 😀
        ih iya wattpad. aku tuh sebenernya ingin gitu buka cabang(halah dikata besto) di wattpad juga tapi aku tuh ga ngerti sama sistem wattpad, ribet 😀

        Like

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.