[Vignette] Forgetness

FontCandy (5)

Original photo’s source D a z z l e r

October 2017©

…Lupa sebenarnya itu enak sebab bisa menghambat duka, membebaskan luka. Sementara. …

terinspirasi dari Lupa karya Joko Pinurbo

Between

Sepanjang jalan pulang tadi,dari kantor kejaksaan distrik Tokyo, aku tidak berpikir banyak selain keinginan untuk meminum segelas ice coffee latte sambil duduk-duduk santai. Menerima buku yang dipinjam oleh Brian yang dia janjikan akan dikembalikan sore ini.

Pekerjaan sebagai seorang asisten konsulat firma hukum di Tokyo bukan pekerjaan yang bisa dianggap mudah ataupun sulit. Pekerjaan ini memang memiliki kandungan oposisi biner, terlihat mudah untuk dipikirkan dan direncanakan tetapi sulit untuk dilaksanakan dengan baik tanpa cacat. Seperti hari ini, bersama dengan pengacara senior dan salah satu klien kami dari dinas pendidikan pusat kami menyambangi kantor kejaksaan distrik Tokyo guna memenuhi panggilan sebagai saksi kasus gratifikasi. Pemeriksaan berjalan cukup panjang, memakan waktu sekitar enam jam. Karena mengingat Brian punya janji denganku sore ini, sepulangnya aku pamit izin kembali lebih dahulu dan menolak ajakan klien untuk makan malam bersama.

Brother! Sudah lama ya menunggu? Maaf, tadi aku ada urusan sebentar.” seru Brian saat datang sambil meletakkan ransel penuh yang digondol di bahunya di atas bantalan kursi merah bata yang kosong di samping. Wajahnya terlihat kemerahan seperti ia habis berpetualang di tengah gurun seharian penuh.

“Sejak kapan dirimu bisa datang tepat waktu, memangnya, “

“Ck, maaf-maaf. Ada sedikit masalah dengan tower di gedung kejaksaan. Tidak mungkin aku meninggalkannya begitu saja, ‘kan. Bisa-bisa aku mati gosong disetrum oleh kepala bagian yang super galak itu.”

“Eh, kau abis dari kantor kejaksaan distrik Tokyo?”

“Tidak, distrik Gangnam, “ sahut Brian asal sambil melayangkan telapak tangan ke udara, memanggil salah satu pegawai kafe. “Memangnya kau pikir kantor kejaksaan yang mana lagi?”

“Tahu begitu lebih baik bertemu di sana saja. Buang-buang uang tahu bertemu di kafe seperti ini terus. Aku harus berhemat ekstra bulan ini, asal kau tahu saja.”

“Kau tidak bilang, Sobat.”

Seorang pelayan wanita berusia kira-kira tigapuluh tahun mendatangi kami. Ia tersenyum manis dan langsung menuju kursi Brian, mendengarkan pesanan si rambut jingga.

“Sore, Brian-san. Mau pesan apa? Seperti biasa atau menu lain?”

“Akira-san, kau sangat mengingatku dengan baik ya. Aku jadi terharu.”

Kedua orang di hadapanku seperti sedang melempar gombalan di opera sabun. Sementara aku benar-benar terlihat sebagai manusia tali yang tugasnya hanya menaikkan dan menurunkan tirai.

“Oh, Jaehyung-san, apa kopinya mau ditambah lagi? Kamu masih belum menggunakan kupon ekstramu lho.”

Aku menggeleng dengan pelan. Berkata tidak perlu dan berterimakasih. Akira-san, pemilik yang turun tangan sampai meja pelayanan adalah orang yang terlanjur baik dan dermawan, menurutku. Sebab selama aku menemukan kafe yang menyempil di seberang kampus utama tempat aku mendapatkan gelar sarjana, beliau selalu memberikan kupon ekstra kepadaku. Saat aku memberitahukan hal ini kepada Brian, mendadak keesokan harinya ia mendahuluiku tiba di kafe dan mengukuhkan diri sebagai pelanggan tetap nomor wahid.

“Eh, kenapa hanya Jaehyung saja yang ditawarkan kupon ekstra? Diriku tidak, nih? Padahal aku juga pelanggan tetap, lho.”

Akira-san menanam tawa geli mendengar usaha rayuan Brian. Dibalas dengan aksi memainkan sepasang jejari tangan yang dianalogikan sebagai pistol dengan menembakan udara ke arah Akira-san dengan tampang yang dibuat imut. Oh aku pikir aku ingin mengembalikan es kopi yang sudah kuminum setengah isi saat mendeskripsikan karibku yang satu ini.

“Kalian berdua adalah yang terbaik. Oke, pesanannya ditunggu ya. Untuk Brian-kun dan Jaehyung-kun, akan aku beri bonus, cheese cake spesial. Oke!”

“Akira-san memang juara!”

“Ya, berhenti meminta potongan atau camilan gratis, Kang Younghyun.” Kataku dan memanggilnya dengan nama asli.

Tingkah laku Brian sejak masa sekolah, kuliah, bahkan sampai sudah bekerja memang tidak berubah. Malah semakin menjadi lebih tidak tertangani lebih dari yang dapat dibayangkan. Namun hal bersifat kontradiktif dalam ranah positif yang dapat kupetik dari memiliki karib yang awet seperti Brian tidak menjadi masalah. Dalam diri Brian kelihatan ada sesuatu yang dibawanya sejak lahir yang membuat orang tertarik dan merasa nyaman bersama dengannya. Tanpa diduga-duga ia bisa menunjukkan bahwa ia orang yang ceria dan suportif tapi pada saat itu pula ia dapat memerlihatkan sifat-sifat duniawi yang tak ketulungan. Ia akan mendorong orang-orang untuk terus maju dengan penuh optimis. Namun di balik itu semua batinnya seolah bergelut di dasar sumur yang pekat dan suram. Aku samasekali tidak mengerti mengapa orang lain tidak dapat melihatnya. Namun pada prinsipnya itulah aku menyukainya. Dia teman yang baik.

Aku meninjau profil depan temanku dalam diam. Brian menyadari, lalu dia pun berkata apa yang kaulihat dalam bahasa Korea formal. Sebilah jariku kubuat menyilang di atas dahi. Brian hampir melontarkan gendongannya yang besar kepadaku. Namun setelahnya dia menebar gelak tawa.

Aku masih menatapnya. Brian masih menyadari, lalu dia berkata apa lagi sih, dalam bahasa Korea ragam santai. Aku menggambar bentuk persegi panjang di depan muka menggunakan tinta tak terlihat yang dikeluarkan oleh sepasang jari telunjuk. Brian menepuk dahinya keras-keras. Tentu saja aku memberinya isyarat untuk segera memulangkan novel yang ia pinjam.

*

Akira-san dan Brian hampir saling melempar apapun yang ada di hadapan dan tangan mereka berdua mendengar perkataanku barusan.

“Aku pikir aku tidak akan mengunjungi kafe ini selama satu bulan ke depan.”

“Kenapa tiba-tiba? Apa kau akan kembali? Kenapa tidak cerita-cerita dulu, sih?!”

“Jaehyung-kun, apa yang terjadi?”

Aku bergantian menatap keduanya dengan tatapan yang penuh kebingungan. Reaksi mereka berdua sangat berlebihan.

“Ada apa dengan kalian berdua? Sebulan ke depan aku dipindahtugas ke kantor cabang di perfektur Chiba, atasan memberikan amanat kepadaku untuk mengecek kinerja bulanan kantor tersebut.”

Baik Akira-san maupun Brian sama-sama membulatkan bibir sehingga membentuk huruf o kecil sambil mengangguk-angguk.

“Astaga aku kira ada apa, jangan suka mengagetkan orang kau, Sobat.”

Akira-san hanya tersenyum maklum lalu pamit undur diri dari meja tempat kami bernaung. Namun sebelum itu, ia berpesan yang entah kenapa rasanya hanya ditujukan kepadaku. Sebab tidak mungkin kepada Brian yang kenyataannya sudah hilang ditelan oleh panganan kecil di hadapannya.

“Kuharapa kau baik-baik saja selama sebulan di sana, Jaehyung-kun.”

Aku mengangguk singkat atas pesan dari Akira-san. Setelah mengatakan itu, perempuan yang sudah seperti kakak tertuaku itu meninggalkan meja kami. Saat berhadapan dengan Brian yang sudah kosong melompong piring camilannya aku tidak kaget.

Bro, maaf aku tidak bisa menemani terlalu lama. Andai saja aku tidak meninggalkan catatan penting di kantor kejaksaan, kita berdua pasti akan mengobrol panjang.”

“Ya, tak apa. Seharusnya kau lebih berhati-hati.”

“Maafkan, Sobat. Oh ya, ini biar aku yang bayar. Hitung-hitung sebagai hadiah mengantar tranmigrasi dirimu ke Chiba.”

“Aku tidak pindah tempat tinggal, hanya tempat kerja. Tokyo dan Chiba masih berada di satu pulau. Tolong ya, ”

Brian tertawa dengan suku kata lalu meremas bahuku pelan. “Jaga baik-baik dirimu selama sebulan oke. Aku pergi dulu, ciao!”

Aku bersandar pada sofa yang aku duduki sambil melihat pemandangan warga Tokyo atau bukan warga Tokyo berlalu lalang. Di sela-sela perlintasan lampu dari layar raksasa di badang pohon beton berjendela ataupun lampu-lampu gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan aku beranggapan kalau gemerlap pusat kota yang dahulu dikenal bernama Edo ini hanya pengelabuan dari cela yang tidak terlihat.

Tidak semua kurasa orang yang tinggal di kota besar merasa bahagia. Sebagian dari mereka pasti ada yang merasakan depresi karena tuntutan pekerjaan. Atau tekanan dari kecurangan sosial dalam masyarakat. Andai saja manusia berhak lupa selamanya akan itu tentu kita tidak akan pusing-pusing berpikir tentang keruwetan yang selalu ada pada kehidupan. Namun kurasa itu juga tidak adil. Lupa itu tindakan pengecut. Yang habis digerogoti waktu adalah lupa namun tidak benar-benar sampai habis. Lupa sebenarnya itu enak sebab bisa menghambat duka, membebaskan luka. Sementara.

Sweter hijau zamrud favorit yang membungkus badan ini terasa seperti kulit kedua. Tiba-tiba saja aku merasa kedinginan. Aku menarik mantel cokelat batang pohon yang tersampir di tepi kiri sofa. Aku melirik arloji silver yang sudah menemani sejak masa kuliah dengan singkat. Jam-jam sibuk kereta bawah tanah sudah tiba pikirku saat mengeceknya. Tas kerja aku tarik sampai ke atas bahuku kemudian saat bertemu mata dengan Akira-san, aku memberikan salam sambil tersenyum singkat.

*

“Wah jalannya cepat sekali seperti shinkansen.” gumamnya. Wanita berkacamata itu bertolak pinggang dengan tangan kanan sementara tangan kirinya menggenggam buku bersampul warna jingga. Kacamatanya berembun karena uap udara yang keluar dengan berebut dari mulutnya karena berusaha menyusul jarak.

Ia tidak tahu harus diapakan buku yang ada bersamanya. Melihat buku dengan judul seperti itu saja adalah pertama kali baginya. Masih saja ada ya orang yang pelupa, pikir wanita itu.[]

Advertisements

2 Replies to “[Vignette] Forgetness”

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.