[Vignette] Spine

FontCandy (4)

original photo credit to the owner

January 2018©

Ia mengingat tentang kekuatan astral, menganggap yang berbicara itu bukan mabui-nya, melainkan mabui leluhur keluarga Hirai yang murka akibat Momo kuliah asal-asalan. Terkutuklah pemikiran dangkal nan tak beralasan yang sempat-sempatnya muncul di saat itu.

Between, Forgetness

Namanya Hirai Momo.

Info lebih jauh tentangnya untuk saat ini belum terlalu penting. Ini bukan menurut si pengarang, tetapi gadis Hirai itu sendiri yang berbisik agar tidak dengan gampang menyebar data pribadi atas nama dirinya.

Momo terdaftar sebagai mahasiswi aktif program studi Antropologi di Universitas Tokyo. Desember tahun ini, ia akan menyelesaikan tahun kedua dan segera menimang semester lima dari tujuh semester menuju gelar sarjana. Otomatis, memasuki semester lima, di akhir semester Momo dan ratusan teman seangkatan satu program studi Antropologi wajib mengikuti kegiatan kuliah kerja nyata selama satu bulan.

Untuk kelanjutan kuliah kerja nyata tersebut, Momo tidak ingin membuatnya makin runyam. Ia tidak ingin melampaui kehendak waktu untuk sok sibuk soal kewajiban tersebut. Jika orang menyebutnya terlalu santai, itu bukan pengandaian lagi. Kenyataan namanya. Saking santainya, untuk satu tugas analisis mata kuliah pengantar sosiologi pernah ia libas pakai cara shinkansen dalam satu malam. Meskipun tahu kalau dikerjakan jauh-jauh hari, hasil pekerjaannya akan lebih matang tetap saja tidak mampu menyadarkan gadis berkacamata nobita itu.

“Mau benar atau salah, itu urusan belakangan. Yang penting dikerjakan.”

Itu yang selalu jadi jawaban andalan Momo ketika dicemooh halus oleh teman satu kelas. Terang saja, mahasiswi jurusan Antropologi pesimistis satu ini mau jadi apa setelah lulus patut diperhatikan oleh kepala program studi.

September masih digandrungi musim gugur di Tokyo. Meskipun begitu, gadis berponi depan itu tidak kuat menahan terpaan angin dingin yang kontra dengan sinar matahari sore yang berkilau di muka lapisan jendela toko roti sekaligus kafe di depan Universitas Tokyo. Gadis itu mengenakan topi bundar dengan pinggiran yang layu. Sambil membenarkan letak kacamata yang melorot di pangkal hidung, Momo kembali memusatkan jiwa yang tinggal separuh terhadap halaman buku Dissemination karya Jacques Derrida. Buku tersebut adalah versi terjemahan dalam bahasa Inggris. Momo bisa mati juling kalau membaca naskah babon atau naskah asli tulisan fenomenal Derrida yang asilnya berbahasa Perancis.

Ujung lembar kertas berwarna kuning gading yang menunjukkan halaman 170 dikelinting oleh Momo tanpa sadar. Sudah dua kali ia membaca bolak-balik halaman tersebut agar bisa mengiakan gagasan filsuf asal Perancis itu. Namun, yang muncul malah ide bahwa Momo dan buku dekonstruksi milik Derrida adalah paradoks. Sesungguhnya melihat kehadiran buku di dalam hidup Hirai Momo adalah kebenaran yang selama ini tertunda.

Ia tak suka baca buku. Lebih anehnya lagi mengapa ia bisa kuliah di jurusan yang justru begitu dekat dengan buku.

“Heran, orang sepertimu kok bisa ya bertahan sampai sekarang. Kau, pakai jimat apa, sih?”

Orang-orang kelas di sekitar Momo selalu mencemooh dan menilai Momo sebagai anekdot atau parasit. Bagi mereka yang gila nilai dan anti detensi dari dosen kerap berlomba-lomba menjerumuskan Momo ke dalam jurang “di mata dosen kau akan selamanya dinilai tidak baik”. Anak gadis pertama keluarga Hirai itu awalnya bersikap biasa. Tidak ingin meladeninya lebih jauh. Namun, selalu ada satu sisi di mana manusia mencapai batas yang ia punya, begitu juga dengan Momo. Namanya juga manusia. Gadis itu pernah sekali murka terhadap antipati orang-orang di kelasnya.

“Kalian berani menamai diri kalian sendiri sebagai mahasiswa Antropologi dengan sikap kalian yang seperti ini?” Momo bertanya dengan nada tinggi dan sontak seisi kelas menjadi bisu.

“Aku ragu apakah kalian punya definisi pribadi tentang antropologi itu apa? Apa yang membuat kajian antropologi penting di tengah masyarakat itu sendiri, cih, kalian pasti tidak tahu. Dengan sikap merendahkan peradaban yang masih kalian terapkan dari zaman Edo purba hingga sekarang ini adalah kunci ganda beracun yang membuat masyarakat Jepang menjadi maju, tetapi juga bobrok. Kalian menjadi apatis. Kebudayaan yang dahulu dianggap luhur perlahan mulai terkikis dan kalian membuat alasan yang irasional menjadi rasional untuk mendirikan kebenaran yang hanya diakui oleh sebagian kelompok. Tidak ada kebahagiaan universal. Kalian membuat batas-batas. Masih kalian berpikir pantas disebut sebagai mahasiswa Antropologi, tetapi kalian sendiri bias terhadap hal-hal yang menjamur di masyarakat kita ini! Hah?!”

Gadis itu sendiri heran mengapa ia mampu komat-kamit mengenai hal yang sebelumnya tidak pernah Momo pikirkan sama sekali. Ia yakin ia hanya membaca satu kalimat atau paling banyak tiga lembar dari setiap buku pegangan teori yang diamanatkan semua dosen mata kuliah khusus. Namun, menyadari ia mampu menampar semua orang yang ada di kelas dengan argumentasi miliknya membuat Momo menjadi merinding. Ia mengingat tentang kekuatan astral, menganggap yang berbicara itu bukan mabui-nya, melainkan mabui leluhur keluarga Hirai yang murka akibat Momo kuliah asal-asalan. Terkutuklah pemikiran dangkal nan tak beralasan yang sempat-sempatnya muncul di saat itu.

Untuk mengingat hal itu Momo sebenarnya tidak ingin. Momen yang memalukan, pikirnya. Namun, setelah peristiwa itu orang-orang di kelas menjadi segan terhadap Momo. Mereka akan berpikir lima kali untuk mengusik atau mencemooh gadis Hirai itu. Soalnya, saat kejadian itu, tidak sengaja Kepala Jurusan melintas di depan kelas Momo dan mengetahui secara utuh keributan yang ada di dalam kelas. Sehabis itu pula, Momo dipanggil ke ruang kepala jurusan untuk menghadapnya. Dan hal itu jelas membuat Hirai Momo menjadi terkenal di kalangan dosen Antropologi.

Rentetan situasi tidak terduga itu seolah memjungkirbalikkan Momo ke dalam keadaan yang anti bagi gadis itu sendiri. Seperti pusaran air laut yang mementahkan Momo ke dasar jurang laut yang tak berdasar.

Momo menggeleng dengan brutal sebab ia lagi-lagi mengingat keributan tersebut. Dan efek pahit yang juga harus ia tanggung adalah menjadi asisten salah satu dosen pengampu mata kuliah Antropologi Linguistik; membuatnya harus meringkas beberapa buku teori dari berbagai macam sub yang memiliki keterkaitan dengan antropologi. Seperti apa yang sedang dikerjakan gadis itu di dalam kafe sebrang kampus barang dari satu setengah jam yang lalu.

Momo memanggil pegawai kafe, meminta agar ia dibawakan satu buah cheesecake lagi. Tepat di depan mejanya terdapat dua pria tinggi yang sedari tadi mengobrol dalam bahasa yang tidak ia mengerti. Tetapi, kalau didengar-dengar lagi itu seperti bahasa Korea. Momo mencoba untuk menajamkan telinga, menyadap kata demi kata yang dituturkan oleh dua orang di depan yang memunggunginya. Benar saja itu memang bahasa Korea, yakin Momo dalam hati. Mengapa ia bisa seyakin itu silakan tanya saja kepada perempuan Minatozaki yang duduk tepat di belakang Momo setiap mata kuliah Etnologi. Baru selangkah dari pintu saja Profesor Ryu keluar kelas, Minatozaki akan mengaum dalam bahasa Korea, membawakan lagu dari idola kesayangannya.

Lelaki bersurai jingga terang terlihat buru-buru meninggalkan meja dan lelaki berkacamata. Momo masih tidak acuh terhadap hal itu, tidak memberinya atensi khusus. Sepiring cheesecake pesanannya membelokkan perhatian Momo. Gadis itu mendadak kelaparan setiap tiga puluh menit sekali. Camilan ini sudah menjadi camilan ketiga. Profesor Sai memang selalu sukses bikin mahasiswanya stres, keluh Momo dalam hati.[]


 

yihaa selamat tahun baru Dreamers tercinta! well saya merasa hampa sekali selama setahun kemarin sebab saya sanga jarang menulis. well 2017 memang bukan tahun saya :”)

anyway saya juga sadar bahwa tulisan saya makin hari makin kacau haha. )(

Advertisements

5 Replies to “[Vignette] Spine”

  1. Yg bikin segan ama momo selain takut ditimpal balik, dia juga jadi asdos sekarang 😂😂

    Yuhuuu.. happy new year juga Ana…
    2017 juga bukan tahun yg bagus buat gue, moga kita dapet rejeki lebih byk ditahun ini huehehehe

    Liked by 1 person

    1. uh momo-chan ini titisan maung cisewu, hati-hati saja wkwk

      happy happy new year too senpaikuh 🙂
      aminnn. moga di tahun 2018 ini kita semua tetap sehat dan yup rejeki makin berlebih hehe. semangatt!!

      Liked by 1 person

  2. Halo xian, moga tahun ini bisa nulis lbh banyak lagi ya..

    Itu momo-chan pliss, aku pengen nguyel2. Haha, slengekannya emang keliatan ya si Momo ini. Aku prnah bikin ceritanya dia jadi adeknya Yuta klo ga salah.
    Itu aku sempet salfok sama Prof.Sai, yg temennya Naruto bukan? Wkwk
    Keep writing Xian,,

    Liked by 1 person

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.