[Vignette] Decided To Be Strong Is Not Easy

original source of photo greatly credit to ouvert planet

February 2018©

.

“Tenang, Kawan. Aku tidak mungkin tega memintamu untuk membelikan JUMP. Kau bahkan tidak bisa membedakan mana JUMP dan Majalah Trubus.”

.

Probably related to BetweenForgetnessSpine

.

Sesuatu yang baru terkadang memang menarik di mata. Namun, jika kalian tidak pintar-pintar menemukan cela dari sesuatu yang baru tersebut, kalian akan terjebak di dalam kepalsuan masif yang disembunyikan oleh kerlap-kerlip yang membutakan. Dibuai oleh sihir jahat yang memabukkan dan berakhir dengan keadaan tidak keren yang tidak bisa kalian bayangkan. Setidaknya ini benar aku rasakan, sehingga aku berani mengingatkan hal di atas kepada kalian.

Hal ini bermula dari seorang yang aku kenal dan sialnya adalah teman lamaku. Siapa lagi teman yang bernama Brian Kang, alias Si Tukang Makan. Si Tukang Makan yang satu ini entah kenapa gemar sekali merekomendasikan makanan dan tempat makan di seluruh penjuru Tokyo kepada siapa saja. Termasuk diriku. Seperti sebulan yang lalu saat kue mochi rasa matcha yang terkenal dari Kyoto membuka cabang di Akihabara, Brian masih dengan seragam teknisinya mengaku lari dengan kecepatan Maseratti berkekuatan seribu kuda hitam―seingatku yang lambangnya kuda hitam itu Toyota, eh bukan?―menuju tempatku. Oh sepertinya dia lupa dengan ponsel pintar dan segala fiturnya. Padahal, sebenarnya ia bisa saja mengunduh sebuah aplikasi jasa pesan makanan, tinggal pesan lewat aplikasi tersebut, sehingga ia tidak perlu repot-repot menyatroni kantorku. Bersikeras mengajak diriku agar bersedia menemaninya pergi ke sudut kota Tokyo tersebut, menjadi budak camilan dengan isi kacang mentega yang lezat, tetapi juga kaya akan kolestrol. Atau saat Nasi Kare Neraka Papa Oshi membuka cabang ke-seratusnya di sebrang Universitas Tokyo, Brian memelintir jalan pulang yang biasa aku tempuh; ia memblokade jalan dengan badannya sendiri. Menyeretku menjadi tandem yang akan mengabadikan keberhasilan Brian menghabisi sepiring jumbo nasi kare super pedas―bahkan pemiliknya, Oshimura Jun, bersikeras bahwa bara api neraka termasuk ke dalam bumbu rahasia nasi kare miliknya.

Entah mengapa, semenjak Brian ditempatkan di Tokyo lagi sekembalinya ia dinas di Yokohama selama setahun malah menjadi penjajah kuliner. Maniak makanan. Si Tukang Makan Brian. Aku rasa ia dikutuk oleh salah satu Dewa Makanan saat tidak sengaja merusak sesaji untuk Para Dewa di sana.

“Dwungwar ywa, Jwae, nyam nyam, dwu dwinwa inwi, nyam nyam, mwakanwan adwlwah kebwhagiahwan ywang hwakwikwi. Nyam nyam.” Brian memberikan petuah soal makanan dalam keadaan mulut penuh sesak oleh potongan karage saus mentega saat makan siang semingu yang lalu. Tentu saja, selesai berkhotbah, pria malang itu tersedak dan hampir menemui ajalnya.

Kupikir satu dua kali tidak apa-apa. Menemani pria itu berwisata kuliner, meskipun aku harus merelakan uang bulanan yang susah payah dihemat terbang melayang begitu saja akibat godaan Brian dan isu ketidak-setia-kawanan setiap aku menolak meminjaminya uang, karena alasan semu tentang ia yang selalu meninggalkan dompet. Ya, tetapi tidak hampir setiap minggu juga, kan.

Sialnya tragedi mengerikan tentang Brian kembali terulang pada Sabtu ini. Kalau saja aku tidak termakan akal bulus si rambut jingga tentang pembukaan kedai donkatsu terenak se-Jepang yang pernah masuk Champions TV, sialnya lagi kedai itu buka di dekat kantorku, aku akan menjadi penduduk Tokyo yang dengan damai melipat diri di dalam futon hangat alias tidur. Sungguh, jika bagi Brian makanan adalah kebahagiaan yang hakiki, maka itu berlaku juga untuk tidur bagiku. Kembali ke depan kedai donkatsu dengan udara beku yang masih menghantui musim dingin Tokyo, dan tentu saja sialnya  aku yang menjadi bagian dari antrian sepanjang naga yang melilit Fuji-yama yang menguar di pelataran restoran. Bersama puluhan warga Tokyo yang lain, melawan terjangan dingin yang menggigit tulang demi semangkuk nasi dan ayam olahan khas Negeri Samurai ini.

“Sobat, aku tidak ingin melewatkan kesempatan emas untuk mencicipi donkatsu terlezat se-negeri ini. Bagi diriku tidak makan donkatsu Paman Oda adalah penghinaan terbesar.” ucap Brian ketika bersikeras membujukku untuk menemaninya pergi.

“Berteman dengan tukang makan yang tak kenal kemanusiaan sepertimu juga penghinaan terbesar bagiku.”

Sejak awal aku terus saja menolak. Oh, ayolah, aku masih kesal soal keteledoran pria itu (atau diriku) saat aku tidak menemukan novel Kazuo Ishiguro yang ia pinjam di dalam tas kerja saat ia kembalikan, namun ternyata novel itu tertinggal di kafe milik Akira-san. Untungnya, novel tersebut ditemukan oleh gadis berkacamata tanpa nama. Dan kebetulan yang sederhana membuat novel itu masih menjadi milikku saat pulang kantor dua minggu yang lalu di dekat rel perlintasan kereta. Tuh, aku bahkan belum berterimakasih dengan patut kepada gadis itu.

“Ini yang terakhir, deh. Sehabis ini aku akan puasa jajan.”

“Kaupikir aku akan percaya? Dua bulan yang lalu kau juga berkata sama, Maniak Makan.”

“Ya-ya-ya, aku sungguh-sungguh, Jae-chan. Donkatsu Paman Oda adalah yang terakhir.”

“Bukan Jae-chan, Jaehyung. Kalau sudah begitu, namaku ikutan berubah.”

Dijawab sepertiu, Brian hanya nyengir. Dan, ya, selebihnya kalian sudah tahu kan mengapa aku bisa berada di antrian panjang Donkatsu Paman Oda. Namun, herannya aku tetap saja terjerumus oleh ajakan karib yang satu ini. Tidak peduli sekuat apa aku menolak, pada akhirnya Brian selalu mampu menang di atasku. Aku tidak marah, hei, untuk apa pula aku marah, hanya saja merasa heran. Orang yang memiliki daya tarik sebesar dia malah berteman dengan orang yang sangat jauh dari kata menarik sepertiku.

“Oh tidak! Aku lupa!” Brian berseru sambil memukul kepalanya keras. Ia melongo sambil melihatku dengan tatapan memelas. “Bro, hari ini Sabtu ‘kan?”

Satu dua dan tiga, perkara sebentar lagi tiba. Intuisiku berkata sesuatu yang buruk akan terjadi pada kami berdua. Atau, hanya terjadi kepadaku. Mantel cokelat yang membungkus tubuh aku rapatkan. Bahkan terpaan angin yang membungkam punggung pegalku di petang musim dingin ini lebih baik daripada hal aneh yang diperkirakan terjadi. Tentu saja hal aneh itu Si Tukang Makan yang buat.

“Ya. Hari ini Sabtu. 9 Desember 2017. Gaji bulananku tinggal setengah. Masih awal musim dingin di Tokyo. Apa lagi memangnya?” jawabku bahkan disertai dengan informasi yang tidak penting. Bahkan virus tidak penting Brian mencaplok diriku.

JUMP hari ini terbit. Aku lupa membelinya. Oh ya Tuhan! Aku tidak boleh melewatkan One Piece minggu ini!” Brian pucat pasi. Ia mentapku dengan tatapan yang memelas. Oh perasaanku makin tidak enak.

“Oi, kalau kau ingin aku  –“

“Aku harus ke Kinokuya. Yang terdekat dari sini bisa ditempuh sekitar sepuluh menit berjalan kaki. Aku masih ingat rutenya. Oke, kau tunggu sebentar di sini, tak apa, ‘kan?”

“ –yang pergi aku –“

“Tenang, Kawan. Aku tidak mungkin tega memintamu untuk membelikan JUMP. Kau bahkan tidak bisa membedakan mana JUMP dan Majalah Trubus.”

“SEBODOH ITUKAH DIRIKU, HE?!”

Seperti selebaran restoran Cina yang dibagikan oleh anak-anak muda pekerja paruh waktu di tengah desakan langkah-langkah para pejalan kaki di Shinjuku, rasa tidak terima diriku diabaikan oleh Brian. Ia langsung menghilang secepat pasukan kamikaze menuju Kinokuya. Karena pasrah aku hanya bisa mengekori kepergian Brian dengan refleks menoleh ke belakang. Aku berniat memaki kesal kepada Kang Younghyun, tetapi persediaan kosakata mengutuk dan memaki versiku tiba-tiba lenyap. Tunggu, seingatku kami adalah barisan terakhir antrian pengabdi donkatsu semenjak lima menit yang lalu. Tidak sampai munculnya gadis berkuncir dua lengkap dengan headphone besar yang menutupi daun telinga dan kacamata besar yang melingkar di hidungnya sedang asyik membaca JUMP.[]


.

.

.

yes i know why i made bribri  yandere and jae tsundere. adoh ngga ngerti juga kenapa mereka tiba-tiba nyasar di Tokyo. haha. peace 😀

Advertisements

5 Replies to “[Vignette] Decided To Be Strong Is Not Easy”

  1. Aku kagak apal anak day6, tapi kumenikamtinya banget nget nget. Setting jepang sama kebiasaan orang jepangnya menarik–selebaran yang diabaikan itu ngingetin aku sama orang di dorama-dorama.
    Dwi jwepang awhda majwalah thrubhus jwuga ywa xihan?? *efek ngomong sambil makannya brian*

    Liked by 1 person

    1. yosh sensei, makasih sudah mampir. uh pokoknya kak fafa harus kudu wajib kepoin anak-anak desik. selainnya musiknya yang ciamik, pipolnya unyu makz. haha.

      dorama-dorama dan anime-anime sering pake latar itu juga hehe.
      ahaha ceritanya trubus versi jepang 😀

      Like

      1. Soal kepo mengkepo aku udah pernah dengerin lagu mereka full album lewat yutub. Masuk sih di telinga aku. Nah, soal personilnya yg belum. Ntar deh kapan2, hhe

        Btw, kangen ceritanya bae sibling masa,, *uhuk*

        Liked by 1 person

      2. uhui mantab kak!

        yahahaha ada yang kangen bae sibling juga hm, terhura. well, tahun ini bae sibling diusahakan akan up lagi seperti dua tahun sebelumnya. *tepati janjimu, na. haha*
        kangen nulis bae sibling sama junmen jugaaa </3

        Like

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.