[Playlist-Fict] #56: Heartache

February 2018©

So they say that I didn’t know what I had in my life until it’s gone ―ONE OK ROCK (2015)

.

related to さよなら and part of Playlist-Fict

.

.

 

Setiap manusia yang bernapas dan berakal selalu memiliki permasalahan masing-masing. Permasalahan yang akarnya kecil, tetapi cabangnya menjalar ke mana-mana. Mengesalkan. Menyesakkan. Perasaan tidak enak berakumulasi menjadi kesatuan dengan jumlah yang besar. Serupa dengan yang dirasakan oleh perempuan berumur genap dua puluh tujuh tahun pada Maret nanti. Selagi menunggu lamaran yang lolos di bagian HRD, dua minggu setelah di-PHK dini oleh perusahaan sebelumnya Suzy hanya bisa menunggu dengan tidak pasti. Demi menyambung hidup pun ia melakukan pekerjaan paruh waktu apa saja.

Dirinya beserta ratusan orang yang kena PHK masal adalah sumber dari segala sumber permasalahan yang menjegal perempuan itu. Ditambah pula koneksi kecil yang ia punya di beberapa perusahaan. Padahal, kalau ia punya jaringan pertemanan yang luas, dengan mudah ia bisa saja meminta bantuan kepada teman-temannya itu. Sekarang gadis itu malah menyesal, karena telah diasingkan oleh sosial. Atau lebih tepatnya ia sendiri yang memilih untuk mengasingkan diri dari masyarakat.

“Huh, mengesalkan sekali. Tiba-tiba hidupku jadi begini.”

Ponselnya berdering. Ikon amplop menyembul di layar. Dari situ terdapat pesan ajakan untuk nongkrong bareng dari koneksi kecilnya. Suzy lalu mengecek dompet lusuh berwarna cokelat yang terhimpit bantal sofa. Ia melihat sisa uang di dalamnya dengan napas yang tinggal di ujung.

***

Kedai makgeolli yang berhimpitan dengan restoran jeokbal di Hongdae menelan sisa upah pekerjaan paruh waktu di toko buku Suzy. Ia mengangsurkan tiga lembar sepuluh ribu won kepada temannya.

“Ini bagianku.” ucap Suzy.

“Terima kasih sudah mau datang. Oh ya, minggu depan jangan lupa datang ke pernikahanku ya kalian semua.”

“Wah, asyiknya, Jisun sudah ngga jomlo lagi.”

“Kasih tahu kita gimana malam pertamanya, dong.”

“Ya-ya-ya, kalian para penyihir, diam saja.”

Ketiga perempuan yang tergabung ke dalam jaringan pertemanan kecil yang dimiliki Suzy tertawa mengikik. Suzy hanya melihat mereka dengan tatapan kosong. Ingin ikut tertawa, tetapi sialnya ia tidak bisa. Kebahagiaan orang lain di matanya malah tampak seperti kesedihan. Ia merasa tolol, karena tidak bisa ikut bahagia saat temannya merasa bahagia. Terlebih di saat kondisinya sedang terpuruk seperti ini.

Enak ya, mereka bisa merasa bahagia tanpa harus pusing. Tidak sepertiku.”

***

Udara malam mengantar jalan pulang gadis itu menuju tempat tinggalnya. Berpura-pura masih menjadi karyawan di tempat kerjanya yang terdahulu sungguh menyesakkan. Pasalnya ia memang tidak memberi tahu koneksi pertemanan kecilnya itu. Gengsi. Cih, gengsi di zaman sekrang dihargai setengah dari harga kimchi eceran di minimarket. Lagi-lagi, Suzy merasa hidupnya semakin suram.

Di usia segini dan di-PHK muda sungguh bukan masuk ke dalam status yang keren. Membandingkan keadaan dirinya dengan orang lain juga bukan solusi akhir yang tepat. Seribu orang di kota ini memiliki seribu keadaan yang berbeda. Suzy rasanya ingin mengutuk siapa saja orang yang berkata “Besok senin, Ya Tuhan. Kembali bekerja sungguh menyesakkan” di hadapannya. Jelas bahwa mereka sendiri tidak tahu betapa dua ratus kali lebih menyesakkan menjadi seorang pengangguran.

Kehilangan bukanlah proses yang keren, tetapi bisa menjadi pengalaman yang berguna. Cih, sepertinya hal itu harus diverifikasi dahulu oleh gadis itu baru bisa percaya. Jikalau begitu keadaannya, mengkuti kutipan siapa saja yang berbunyi ‘Waktu terbaik adalah sekarang’ jadi langkah awal bagi Suzy untuk menebas kegelapan dalam hidupnya selama dua pekan ini. Besok pagi, ya, dia harus bangun lebih awal dan bersiap mengirim puluhan lamaran. Ia harus mencoba dan tidak boleh berhenti berusaha. Menyerah bisa jadi pilihan, tetapi berusaha dulu. Suzy tertawa mengejek dirinya sendiri. Semangkuk arak beras ternyata mujarab mengusir kegundahan hatinya. Bulan dan bintang pun ikut tersenyum kepadanya.[]

 

Advertisements

3 Replies to “[Playlist-Fict] #56: Heartache”

  1. XIAAANN, SPOT DOELOE BUAT TERIAAK.
    SISUS AKU HISTERIS CUMA BACA JUDULNYA. YAAMPUN DEMI APA OOR, MANA LAGU BAPER ITUUU..
    KYAAAAHH, BANG TORU KUUUHH YANG SEKSEH KALO PAS NGGITAR JADI KEBAYANG JUGAAA..
    udah, sekian. Maapkeun kepslok jebol.

    Liked by 1 person

    1. Wah, mbak sus kesian kena PHK. Lha dia apa hidup sendirian ya?? Kalo masih ada ibunya, paling ngga kan si ibunya suka tanya2 temennya, ada lowongan ga buat anaknya, gitu. Hahay, di indo sini suka kek gitu sih.
      Nice Xian,,
      Keep writing ya,,

      Liked by 1 person

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.