[Ori-fic] Terlalu Banyak Vodka Di Dalam Gelasmu

 

Di jalan pulang terlebih terjebak di tengah kota yang mati kutu ruas jalannya tidak banyak yang dapat dilakukan kecuali duduk sampai tiba di terminal Blok M dalam satu jam ke depan. Ia menyandar kepada kaca bis hijau daun cincau yang mukanya tidak pernah dirawat. Terdapat karat dan kerak di sana-sini. Mata yang disekap oleh kacamata silinder berbingkai cokelat kayu menatap pergerakan penggiat trotoar yang mampu melihat peluang di tengah penderitaan masyarakat kota setiap jam berangkat dan pulang kantor. Tukang gorengan, gerobak mi ayam, sepeda penjaja kopi atau teh, gerobak batagor membentuk aliansi pedagang asongan kaki lima yang menyabotase hak para pejalan kaki. Mereka yang diserang haknya tidak melakukan kontra, malah terlipur lara. Suntuk dan jenuh akibat kemacetan dapat diobati oleh kriuk-kriuk renyah yang ditawarkan gorengan. Luka pekerjaan di kantor terobati oleh manisnya teh hangat atau harum wanginya kopi hitam seduhan. Mi ayam dan batagor akan menjadi penumpas penjahat kelaparan yang menyandera. Mulai dari itu saja dapat disadari bahwa segala hal di dunia ini memiliki dua sisi yang terkadang tidak dapat dilihat oleh banyak orang. Di matamu terlihat tidak baik belum tentu seirama dengan apa yang dilihat oleh orang lain. Begitupun sebaliknya.

Kuap sekarang menyandera. Menelantarkan kesadaran pria berkacamata itu di tengah alam tidur. Empat puluh lima menit berikutnya ia pun terlelap.

***

Lima tahun yang lalu,

Apa yang bisa diperbuat oleh lulusan sarjana sastra yang tidak punya koneksi orang-orang penting di berbagai instansi pemerintah atau perusahaan sepertiku? Menunggu datangnya keajaiban dari Langit berupa panggilan wawancara dari segudang lamaran yang sudah aku kirim atau terus menggali dan menggali tiap lubang pekerjaan dan menanam lamaran di sana tanpa kepastian akan diterima? Aku sungguh sudah mencoba keduanya, kok. Berdoa sampai bibirku pindah ke samping selepas sembahyang, sudah. Berusaha menaruh lamaran di sana-sini juga sudah.

Lantas apa yang belum kulakukan?

Menunggu? Bersabar? Semuanya sudah aku lakukan.

Namun, mengapa rasanya jalan ini terlalu panjang? Seperti jalan yang tidak memiliki ujung. Terowongan yang diselimuti kegelapan tanpa arti ini menamparku dengan dindingnya yang dipenuhi tulisan berupa pertanyaan “apakah jalan yang kupilih ini sudah benar?”. Ya, apakah sudah benar? Apakah tidak apa-apa mengambil jalan ini?

Jalan yang dimaksud adalah jurusan yang aku ambil saat kuliah. Sastra Indonesia. “Cih, lulusan sastra mau jadi apa?” adalah degradasi yang sering orang layangkan kepada kami, para mahasiswa Sastra Indonesia. Awalnya aku langsung ingin meninju orang yang merendahkan jurusan Sastra Indonesia sampai tersangkut di ujung Merkurius sana, tetapi sekarang aku malah ingin mengangkat orang tersebut menjadi saudara. Tidak seperti yang aku kira, katanya lulusan Sastra bisa dengan mudah diterima bekerja di berbagai lapisan perusahaan dan instansi pemerintah, tetapi kenyataannya sungguh pahit seperti saripati empedu, jika kalian memang pernah merasakannya. Intinya, kalau kalian bukan siapa-siapa jangan harap kalian bisa diterima bekerja di posisi yang diinginkan atau minimal di posisi yang bagus. Demikian, kalau kalian berasal dari “universitas tanpa nama”, jangan harap amplop lamaran kalian bisa tembus HRD. Begitu juga dengan kemampuan yang kalian miliki sekalipun puluhan kali di atas si dia atau dia yang kemampuannya biasa-biasa saja, tetapi berasal dari universitas terkemuka, sudah lebih baik kalian mundur saja. Rasanya kuliah selama empat tahun kurang dan tugas akhir yang diselesaikan dengan keringat darah menjadi sia-sia lantaran faktor x yang tidak kita miliki. Menyedihkan dan memilukan sekali. Maka, mulai saat itu aku membenci entiti abstrak bernama keberuntungan.

Kepada Tuhan, aku meragu. Aku menjadi perhitungan soal ibadah, amal, dan ketentuan yang aku lakukan untuk-Nya. Apakah sembahyang lima waktu yang kukerjakan sebagai kebutuhan itu tidak menyentuh ujung jempol di kaki-Nya? Mengapa doa-doaku seperti tak terlihat di mata yang tak berbatas itu? Mengapa doa-doaku seperti tak sampai di ujung telinga yang tak berbatas itu? Kenapa orang yang justru mengabaikan eksistensi-Nya, malah digandrungi sejuta kemudahan dibandingkan diriku? Ada apa dengan waktu Jumat siang yang tidak pernah aku lewatkan untuk mendengar khotbah dari penyambung lidah-Nya? Pertanyaanku hanya berputar di mengapa, kenapa, dan ada apa.

Untuk menyandang gelar S.S. di belakang namaku saja aku harus pontang-panting mencari dana dengan bekerja serabutan, bahwa kenyataan untuk bekerja paruh waktu di negara ini juga sangat sulit. Sebut saja aku ini pria cengeng bahwa setiap sepulang bekerja sebagai kuli panggul beras ataupun kurir barang carter aku menangis. Aku menangis bukan karena persendian dan tulangku rontok, melainkan menyadari bahwa sebenarnya aku adalah hamba-Nya yang sungguh lemah.

Kehidupan ini benar seperti yang dikatakan Pram, para manusia membuatnya menjadi tidak sederhana.

“Man, besok ikut bisa? Saya mau traktir kamu sama Bagas. Alhamdulillah, saya diterima di Kemenhan. Hitung-hitung ini balasan kecil yang bisa saya beri, karena kalian sudah banyak membantu skripsi saya.”

“Serius diterima? Keren, Yon. Selamat ya!”

Aku membenci diriku karena menjadi tidak tulus memberikan ucapan selamat kepada teman-teman yang jauh lebih beruntung daripada diriku sendiri. Buntutnya adalah aku menolak halus berbagai macam ajakan untuk sekedar bertemu atau reuni dengan teman-teman SMA dan kuliah. Aku tidak ingin mati muda dengan menahan sakit hati melihat teman-temanku yang lain mendapatkan pekerjaan dengan mudah, karena orangtua mereka punya kenalan dengan si pejabat ini, atau kerena ya mereka memang beruntung.

***

     Orangtua di rumah mungkin merasakan perbedaan dalam diriku semanjak aku menamatkan kuliah sastra, tetapi tak kunjung mendapatkan panggilan bekerja. Berkali-kali mereka menanyakan apa aku baik-baik saja dan aku selalu menjawab bahwa aku baik-baik saja. Aku tidak ingin membuat mereka khawatir dengan anaknya yang sarjana, tetapi tak kunjung mendapat pekerjaan. Singkatnya, aku tak ingin dibuat stress kalau nanti mereka pergi dan menyalahkan keputusan untuk kuliah sastra kepadaku. Mereka memang tidak melarang atau merendahkan keputusanku untuk kuliah sastra. Namun, setiap aku pulang kuliah aku selalu melihat keraguan yang mengemban di sepasang mata mereka. “Apakah anakku ini akan menjadi seorang yang berhasil?” adalah yang selalu menjawab salamku terdahulu dibandingkan lisan mereka.

Pak, Bu, aku sendiri jauh lebih takut, khawatir, dan cemas soal diriku di masa depan. Maka, dibandingkan kalian khawatir, lebih baik Bapak dan Ibu tetap mendoakan yang terbaik untuk anakmu ini saja. Aku ingin berkata langsung soal begitu kepada bapak dan ibu, tetapi aku tidak sanggup. Kalian tahu, ekspekstasi mereka terhadapku itu sungguh besar. Aku dibuat stress oleh ekspekstasi yang besar.

Ada saatnya ketika aku berada di posisi terendah dalam hidup dan aku memilih untuk menyerah. Menyerah juga termasuk ke dalam pilihan dalam hidup, toh. Memilihnya juga tidak apa-apa. Sebut saja ini sebagai pemberontakan masa muda yang salah kaprah.

Puncaknya aku menjadi sangat marah dengan diriku sendiri. Saat itu hari Sabtu. Akhir pekan kedua orangtuaku selalu berada di rumah. Di usia yang sudah setengah renta mereka masih bekerja untuk menghidupi seisi rumah yang diisi oleh presensi mereka dan anak laki-laki mereka yang payah ini. Seusai sembahyang Maghrib entah kemasukkan setan dari mana, selesai membaca doa terakhir aku langsung berdiri dan meninggalkan bapak dan ibu tanpa mencium kedua tangan mereka seperti biasa. Pintu kamar aku banting dengan keras tanpa mengucapkan apa-apa. Aku membanting sajadah ke atas kasur dengan keras. Aku sebetulnya tidak tahu mengapa aku tiba-tiba merasa sesak dan marah.

Satu persatu semua kekecewaan memerangkapku dari segala arah. Mereka berdiri sambil melipat tangan dan menatapku tak kuasa percaya seolah Tuhan telah membuat kesalahan dengan membiarkan hamba sepertiku diberikan kesempatan hidup.

“Herman, kami datang ke sini, menunjukkan sisi kekecewaanmu agar kau bisa setidaknya bangkit. Tetapi, kenapa kau malah makin ingin menjatuhkan diri sendiri. Kami heran, kami kekecewaan malah tidak kecewa terhadap dirimu yang pesimistis ini. Kami justru kecewa kepada Tuhan, Dia masih membiarkanmu bertahan. Padahal, kau sungguh tidak pantas untuk itu.”

“Saya sendiri tidak tahu mengapa ini bisa terjadi!”

“Harusnya yang marah itu kami!”

“Kekecewaan kalian tidak akan mampu mengalahkan betapa saya sangat benci terhadap diri saya sendiri ini. Enyah kalian!”

Sungguh, dibanding kecewa aku lebih marah dan benci terhadap diriku sendiri. Aku benci terhadap fakta bahwa aku ini bodoh. Saat itu, tidak, tetapi setiap saat Tuhan selalu berada di sisiku. Namun, aku terlalu bodoh untuk menghilangkan kehadiran-Nya dalam diriku. Dibandingkan kemarahan terhadap diri sendiri yang seperti tidak ada ujungnya, aku seharusnya lebih bersyukur terhadap apa yang sudah Tuhan berikan kepada diriku. Saat ini aku belum bisa tersenyum, bukan berarti selamanya akan begitu. Saat ini aku merasa bahwa aku adalah orang terpayah, bukan berarti selamanya akan begitu. Semuanya butuh proses. Dan, mungkin ini adalah proses menuju terbentuknya sebuah senyum infinit yang nantinya akan terbit.

Kalau memang kekecewaan berpikir bahwa Tuhan salah, lantas apa diri mereka sendiri itu kebenaran? Muncul pertanyaan dalam diriku. Pertanyaan yang sulit kutemukan jawabannya. Kemudian Bapak dan ibu berhasil mendobrak pintu kamar yang kukunci. Mereka berdua datang menyerbuku. Tidak pernah aku melihat wajah bapak yang marah seperti itu. Aku sudah siap dihajar oleh bapak, malah aku sudah tidak peduli jika bapak memukuliku habis-habisan. Namun, kedua orangtuaku malah memberikan pelukan yang erat. Aku merasa hangat. Mereka berdua tidak berkata apa-apa, tetapi dalam hati aku mendengar mereka berkata “Maaf”. Entah apa ini memang salah mereka karena anaknya menjadi pribadi yang lemah dan payah ini. Aku tidak peduli. Yang kutahu saat itu aku ikut membalas pelukan mereka. Menangis tersedu-sedu untuk pertama kalinya. Ingatkan juga bahwa sialnya aku masih terlalu payah soal menyerah.

***

Bapak dan ibu menganggap kejadian sehabis sembahyang Maghrib itu sebagai peristiwa aku kerasukan arwah leluhur, karena melupakan sesajen untuk mereka. Sial memang. Namun, aku tidak mau ambil pusing. Intuisi mengatakan bahwa untuk saat ini yang kaubutuhkan adalah bersabar. Segalanya akan berjalan sebagaimana mestinya sesuai keinginan Tuhan, bukan kita, tetapi juga atas usaha dan kesabaran kita.

Hanya untuk sementara saja aku percaya akan hal-hal tidak beralasan seperti itu. Selebihnya aku percayakan pada Tuhan. Benar-benar tidak konsisten sekali hidupku ini. Di awal aku hampir menyalahkan Dia, sekarang lihat bagaimana aku menjilat alas sepatuku sendiri.

Saat itu aku sedang mengantar paket ke salah satu mal di pusat Jakarta. Musim hujan yang kering. Januari adalah induk waktu musim hujan, tetapi udara panas macam berada di dalam tungku berbuat kontra terhadap kenyataan waktu itu.

Saat itu aku juga masih menunggu. Menunggu jutaan lamaran yang kukirim itu menarikku ke salah satu instansi dan perusahaan untuk diwawancarai. Sungguh, saat itu aku menganggap tiap dering telepon rumah yang masuk sebagai peristiwa luar biasa yang membuat keringat dingin meluncur dengan deras dari kening turun ke dagu. Namun, saat mengetahui yang memanggil di seberang telepon sana bukan karyawan HRD, melainkan kebanyakan telepon salah sambung, aku ingin mengubur diri sendiri saja.

Tuhan memang tidak pernah salah, tetapi gemar bermain-main dengan hamba-Nya. Kupikir memang begitu.

Kembali pada saat di mana aku membawa paket seukuran kardus sepatu di mal yang berdiri di seberang Komplek Olahraga GBK. Aku mencari nama rumah makan Jepang yang menjadi tempat paket ini diambil. Sepuluh menit berputar-putar dan bertanya sana-sini aku menemukan rumah makan Jepang tersebut. Beruntung di dalam mal yang tidak megah, tetapi tidak kecil juga ini dibekali pendigin udara yang sepoi-sepoi, berkeliling membawa paket aku tidak perlu takut kegerahan.

Seorang wanita berhijab kelabu adalah penerima dari paket ini. Setelah berbasa-basi soal cuaca Jakarta yang panas dan urusan administrasi paket yang singkat aku pamit undur diri. Dia berkata terima kasih. Sebelum aku benar-benar pergi, wanita itu juga melayangkan kata semangat dan itu terdengar tulus. Aku sadar bahwa itu bukan murni budaya kita, saling mengumbar ucapan “semangat” terlebih kepada orang asing. Namun, mengetahui perasaan kita disemangati itu tidak buruk.

Seolah semangat memang awal dari segala yang baik, pulang bekerja paruh waktu, aku dikejutkan oleh ekspresi ibuku yang pucat pasi. Aku berpikir hal-hal aneh terjadi. Aku bertanya kepadanya, tetapi ia tidak kunjung menjawab. Setelah lima menit aku masih kukuh bertanya, barulah ibu berucap. Itu juga dengan volume suara yang sangat kecil.

“Man, “

“Iya? Kenapa, sih, Bu? Kalau bicara itu yang jelas. Daritadi Ibu bicaranya tidak ketulungan. Yang jelas cuma pas Ibu sebut nama saya aja.” Aku kesal.

“Man, barusan ibu dapat telepon. Kamu. Kamu diterima kerja. Besok langsung mulai kerja, ngga perlu tes-tes atau wawancara.”

“Ibu jangan bohong.”

“Hidung Ibu udah panjang kalau bohong.”

Aku menjadi bisu dadakan. Tidak dapat berhenti menatap ibu yang sudah luluh airmatanya.

***

Lima tahun setelahnya, sekarang.

     Di jalan pulang terlebih terjebak di tengah kota yang mati kutu ruas jalannya tidak banyak yang dapat dilakukan kecuali duduk sampai tiba di terminal Blok M dalam satu jam ke depan. Pria berkacamata itu pun sukses memanfaatkan waktu tersebut untuk terlelap. Sembari mengenang susah payah yang harus ia tempuh untuk menjadi seorang yang sekarang ini. Jikalau berpikir bahwa hikayat ini memiliki arti, itu salah besar. Tidak ada arti itu benar. Herman tidak bermaksud untuk bersombong diri, apalagi menjatuhkan setiap entitas yang dilanda masalah. Sebab hal terpenting dalam hidup itu bukan seberapa kuat bangkit dari keterpurukan, membuka pintu untuk ketukan-Nya, atau memahami relasi antar anak-anak manusia; sederhana saja, vodka yang terlalu banyak dalam gelas itu tidak baik.[]

Advertisements

3 Replies to “[Ori-fic] Terlalu Banyak Vodka Di Dalam Gelasmu”

  1. Waaaaah
    Terharu ga sih bacanya sasuga Xian
    Im not a big fan of orific sih ya so menemukan fic seperti ini yg relatable sekali itu manis. Dan endingnya ~ gembira bgt ga tuh
    Ada satu quote yg agak mengusikku soal knp org yg lebih ga berbakat, lebih jelek lah pokoknya dari kita justru lebih beruntung. Aku termasuk bbrp org ‘jelek’ yg beruntung ini sih dan kurasa apa Tuhan lagi nunggu buat ngebalik nasibku .-. takut juga jadinya
    Paragraf pertama tapi langsung dibuka dgn kalimat panjang yg komanya hilang jadi rada syok juga, ada apa dgn xian?
    Anyways, hope this is not your true story ya xian. Kamu kyknya terlalu optimis utk jatuh dlm fase ini
    Keep writing!

    Liked by 1 person

    1. kak lianaaaa apik kabare kak? kangen kak uhuhuhu!
      ah itu sengaja memang kak meniadakan tanda koma buat tambah gaya-gayaan estetik penulisannya (mengundang kebingungan pembaca padahal ga dikasih tanda baca ya wkwkwk)

      faktor lucky ini sebenarnya selalu ada di dalam di diri kita. hanya saja sebagai manusya kita terkadang suka segan untuk mencari dan berusaha. intinya si ‘aku’ ini hanya sedang galau salah kaprah kak. hehe.

      ngga nggaa, kak liana beda. kak liana salah satu orang yang sudah berusaha keras. nah, hidup yang kadang di bawah atau di atas itu wajar. semangat kak li!

      hehe, tenang aja kak, ada oppa-oppa, everything is fine!

      sipp, makasih banyak kak liana.
      keep writing dan good luck too, kak liana! 🙂

      Like

  2. Baru baca ini xian,,
    Kalimat penutupnya endes banget sih. Iya, manusia emang hakikatnya suka berangan-angan, vodka berbentuk angan2 itu yg kadang bisa jd racun,
    Entah aku bingung mau komen apa lagi,,

    Like

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.