[Ori-fict] Penuturan Klasik

Februari 2018©

… Masa depan yang kau tuturkan itu adalah masa depan yang pantas aku dapatkan, benar begitu? Tidak salah? Tolong seseorang dalam diriku, berikan jawabannya kepadaku.

.

.

Berjalan satu waktu tanpa memandang ke belakang adalah sesuatu yang takkan mudah dilakukan sekalipun sudah membuang sepasang spion di kanan dan kiri, kaca tengah di belakang, bahkan mata ketiga yang tersembunyi di balik kerah baju berwarna biru tua yang lipatannya berkerak. Terlebih yang berada di belakang, mengejarmu berkecepatan cheetah dihantui utang yang melupakan piutang; melesat bagai ribuan anak panah Arjuna yang dirayu oleh Karna untuk mengikutinya; berujung di tepi kenyataan bahwa yang mengakhiri abang tertua adalah adiknya sendiri. Tidak, tujuanku di sini bukan untuk mendongengkan Mahabharata yang sudah puluhan kali diurai oleh masa bersama dedengkot Kurawa yang selalu saja ingin mendistorsi fakta viktori menjauhi mereka bahkan sejak epik itu masih berstatus wacana yang disinyalir membawa bencana.

Namun, tidak pasti juga apa yang akan bergulir selanjutnya sebanyak tujuh halaman ke depan, bisa lebih atau kurang, adalah hikayat heroik nan hiperbolis yang membuat akal mengalami gangguan. Lebih dahsyat dari gangguan pencernaan. Yang obatnya sendiri hanya bisa diimpor dari-Nya. Belum tentu kaki tangan berlisensi spesialis bahkan profesor mampu menggapainya jikalau bukan keinginan yang mengalahkan oposisi biner rasionalitas yang menggempur logika. Sebab, memang belum ada hal hebat yang bisa aku banggakan sebagai entitas bermoral pas-pasan. Menggunakan “belum” bukan “tidak”, aku percaya premis bahwa hal hebat itu akan lahir dari diriku walaupun bukan sekarang, atau nanti, waktu perkiraan tiba yang tidak bisa dipastikan, yang jelas hal hebat itu akan datang. Bergulir bersama derasnya usaha dari keringat yang bergerilya dengan ketidak-mungkinan yang sering orang layangkan kepadaku dalam hening yang berteriak.

Mereka memang tidak terang-terangan mengatakan bahwa “Kau tidak bisa melakukan ini.”. Namun, itu malah membuat perasaan cengengku berjaya di atas logika dangkal bahwa ucapan orang tidak berarti apa-apa. Ucapan mereka sangat berarti apa-apa. Perkataan adalah senjata mematikan. Mulutmu harimaumu. Kata-kata bisa berubah menjadi sangat tajam lebih daripada sebilah golok bermata dua milik para penjagal; lebih tajam dan mematikan daripada gunting pencabut nyawa para Shinigami[1]. Oleh sebab itu, aku sekarang sedikit mengerti agaknya mengapa Rumi[2] sangat yakin bahwa ketika kau sedang marah, diam adalah lebih berharga dibanding setruk berlian Freeport. Aku jadi sedikit mengerti.

Kemudian, apa yang membuat hikayat ini patut ditulis dan diterangkan kembali kepada kalian aku sendiri tidak tahu. Aku masih banyak tidak tahu dengan diriku sendiri, apalagi kalian, keluarga, adik, teman, masa depan, dunia ini. Ketidak-tahuan membuatku menulis. Ajaib. Seperti halnya keragu-raguan yang melahirkan logika, yakin Descartes. Tidak, tidak, menyebut Bapak Modern itu bukan mejadikan hikayat ini sebuah buku pengantar filsafat, sudah kubilang ‘kan di bagian awal paragraf ini, kalimat kedua; aku punya banyak ketidak-tahuan. Ketidak-tahuan di dalam diriku justru adalah roda yang membawaku bergerak ke sana-ke sini. Rancu. Dianggap tolol, karena tidak tahu apa-apa. Heran, aku malah bersyukur atas kenyataan memalukan yang memerikan hati bagi sebagian orang yang katanya menyebut diri mereka normal. Namun, itu dulu. Tolol dulu berada di area gelap nan menjijikan. Sekarang, justru yang paling dicari adalah ketololan. Semisal, acara televisi yang kadar ketololannya sebanyak garam di laut menjadi asupan masyarakat negeri ini. Mengherankan. Tolol itu memang mengherankan.

Aku lebih heran lagi, karena hal-hal yang mengherankan itu lebih sering menjadi landasan timbulnya sesuatu yang menakjubkan. Apa jangan-jangan selama ini Dia merasa heran, karena kian hari makin banyak hal-hal menakjubkan yang menoreh atensi di muka bumi ini. Menarik manusia ikut terhanyut ke dalam gelombang keheranan yang bersifat masif. Keheranan mengapa kebahagiaan menjadi sesuatu yang tidak sesulit dibayangkan untuk didapat.

Seperti halnya mereka yang menanggap bahwa interaksi sosial adalah asupan utama agar kau bisa tetap bertahan di dunia yang katanya sebenarnya kejam ini. Setiap dilemma disulap menjadi sebuah literasi yang harus berpacu pada sensasi. Sesuatu yang sensasional kian dicari, sementara yang inspirasional menjadi langka untuk dijadikan anutan. Kebenaran dan ketidak-benaran bertukar posisi. Membela diri dianggap sebagai tindakan pengecut dan membenarkan ketidak-benaran adalah perilaku heroik. Haus akan pujian dari warga anonimus penghuni dunia maya adalah penyeimbang asupan interaksi sosial yang membutakan kronologi berinteraksi antar manusia sebelum mengenal yang namanya kemajuan teknologi. Keheranan yang membawa kemajuan yang kejam.

Bayangan dalam diriku kesulitan bernapas. Katanya sesak. Sepertinya ashtma-ku menular. Tetapi, ia menolak bahwa ia bengek sepertiku. Katanya, bengek itu penyakit orang udik. Aku bukan orang udik, katanya lagi. Bahkan bayangan yang hanya berhak mengikuti tidak lagi mengindahkan sajak-sajak yang aku lontarkan, atau sebenarnya bukan sajak-sajak tetapi letak-letak kelebihan manipulatif yang aku punya sebagai entitas fana. Di masa lalu, mereka bilang, bayangan mengenal batas-batas yang tidak bisa mereka lewati sebagai bayangan. Aku bertanya kepadanya, apa kau tidak ingin sekali saja menyeberang batas, melewati garis sebagai bayangan? Lalu, bayangan tertawa. Ia meminta agar aku mendekat kepadanya, mengurangi ruang gerak, membiarkan bayangan menikmati keterbatasan. Kemudian, ia menjawab, ingat ya, aku ini sampai kapanpun tidak akan membiarkan bayang-bayangku mendahuluimu, melangkahimu. Meskipun aku penasaran seperti apa rasanya berada di luar garis, terlepas darimu, bergerak karena keinginanku bukan keinginanmu, aku tetap akan bertahan, mengikutimu dengan segala batas-batas yang tak terlihat. Aku bertepuk tangan mendengar jawabannya. Reaksi kelabu, karena aku sama sekali tidak mengerti. Namun, lambat laun, seiring dengan tempat-tempat persinggahan yang kudatangi malah menjauh, aku dapat sedikit agaknya mengerti. Batas-batas tak terlihat itu memang diciptakan untuk bayangan agar tidak menyebrangi sesuatu yang ia kira dapat membuatnya membesar, tetapi malah menghambat langkahku. Batas-batas yang tak terlihat memang menggoda seperti Kofuku[3] yang terjerembab dengan cantik di dalam oase di tengah gurun. Namun, sekali saja kau nekad melewati batas tersebut, jangan harap kau bisa kembali dengan selamat. Batas-batas tak terlihat merupakan pagar di antara dataran realitas dan jurang tak berujung bernama abyss[4]. Begitu bayangan bercerita kepadaku tentang batas-batas tak terlihat sebelum dirinya lenyap diterkam batas-batas sialan tersebut dengan anarkis lantaran membelot. Tadinya ia ingin seppuku[5], tetapi keburu dijebloskan ke dalam abyss. Seperti kecupan kematian, itu kata-kata terakhir yang dapat kudengar. Dan, sejak saat itu selesai sudah bayangan bersamaku yang kupikir akan baik-baik saja. Namun, nyatanya tetap saja, ke manapun aku pergi, yang berhak mengikuti adalah bayangan dan bukan yang lain.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi kepadaku? Berjalan di alam gangguan pikiran dengan bayangan Descartes yang keheranan? Tidak mungkin. Akal pikiran orang yang normal, bahkan tidak normal takkan mampu melampaui gagasan yang tidak menyehatkan akal tersebut. Atau kalau mungkin iya itu terjadi maka apa yang aku tulis ini merupakan hasil dari gangguan pikiran yang aku idap. Tidak, tidak. Berhenti mengatakan diri sendiri tidak normal; aku normal. Kepalaku rasanya mau meledak, atau bahkan membelah diri seperti amoeba menjadi sel-sel paku yang tidak dapat kembali lagi ke asalnya. Ini semua apa? Semua ini apa? Apa ini semua? Ini apa semua? Semua apa ini? Apa semua ini? Tidak, yang membelah diri justru kuriositas dalam benakku, menjadi pangkat enam. Aku menarik napas dengan dalam. Menahannya selama lima detik, lalu menghempaskannya dalam tempo yang lambat. Tidak boleh sampai gangguan pikiran. Memikirkan ini semua apa sama saja dengan membangkitkan dedengkot mumi di Mesir; malah akan membawa petaka. Tidak ada juntrungannya. Semua ini malah menghadirkan ketiadaaan. Ketiadaan yang hadir. Kehadiran yang tidak ada. Samurai tanpa katana. Apakah ini yang disebut dengan peristiwa bayangan yang melewati batas-batas; aku malah menjadi dapat melihat sesuatu yang selama ini selalu dilindungi oleh bayangan. Ketidak-bahagiaan adalah galaksi Bimasakti yang dapat aku lihat dari setiap pasang mata teman-temanku yang menempati poisisi eksekutif di tempat mereka bekerja. Anak-anak muda produksi zaman kekinian dan hedonisme yang dikomandoi setan untuk bergerilya. Ketidak-tahuan sejarah adalah delima yang mewarnai tiap kata-kata yang dapat aku dengar dari setiap bibir merekah yang lahir sebelum gincu para perempuan berjas, mengalahkan setelan necis laki-laki berjas. Dunia benar-benar berjalan melawan waktu dengan hasil; dunia takkan mampu menang atas Sang Waktu. Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun berlalu. Memeluk Sang Waktu dengan berbagai aroma. Senja yang membawa rindu, malam yang mengecup mata dengan manis, fajar yang tidak pernah mendua. Semau apa waktu berjalan, mereka akan tetap berjalan, diliputi Sang Waktu; waktu gerimis turun rintik-rintik perlahan, waktu ombak di laut pasang dengan menggoda, waktu matahari senja berjinjit untuk mengecup kening. Sang Waktu koprol di dalam pikiranku, semoga ini bukan distoris alam pikiran, menjungkir-balikkan Sang Waktu agar aku dapat bersama-Nya. Sekadar membawa pesan, atau lebih tepat membawa dengan paksa―Dia tidak pernah memaksa kami untuk selalu membuka Pintu untuk-Nya―agar aku dapat melihat sekilas, atau dua kilas lebih banyak rencana tentang bagaimana dunia akan terbalik di masa yang akan datang. Bagaimana bayangan akan meninggalkanku dalam balutan gerimis manis dan kopi dingin. Bagaimana dunia akan dipimpin oleh ketidak-bahagiaan, ketidak-tahuan, dan ketiadaan.

Kemudian, aku bertanya kepada diriku sendiri. Masa depan yang kau tuturkan itu adalah masa depan yang pantas aku dapatkan, benar begitu? Tidak salah? Tolong seseorang dalam diriku, berikan jawabannya kepadaku.

Seolah menjawab, riak kecil dalam hatiku berbisik bahwa penuturan di atas tidak terasa asing. Tentang hujan di dalam abyss atau ketidak-bahagiaan bayangan yang mengikuti. Senja yang memeluk kopi dingin. Keheranan masif yang mengecup kening. Semuanya adalah potongan dari enam sajak kecil yang berkomposisi dalam diriku. Semuanya adalah bagian dari masa depan yang datang tidak lebih awal kepadaku. Penuturan dari Sang Waktu yang datang menghampiriku di saat aku merayakan masa paling terhina dalam hidupku dengan simfoni kesedihan yang paling sia-sia. Selamat tinggal mata, dunia, senja, kopi, jalanan.[]


catatan kaki:

[1] Malaikat pencabut nyawa kepercayaan masyarakat Jepang.

[2] Andrialius Feraera, 2017, 7 Nasihat Maulana Jalaludin Rumi Agar Hidup Menjadi Lebih Baik, Hipwee. Mengacu pada kutipan Jalalludin Rumi “Dalam Keadaan Marah dan Murka Jadilah Seperti Orang Mati”. Ketahuilah, bahwasanya marah itu seperti bara api dalam hati manusia yang bisa saja membinasakan diri sendiri. Hal ini dapat terlihat dari merahnya kedua mata dan tegangnya urat darah di leher orang yang sedang dikuasai kemarahan. Mengendalikan kemarahan bukanah sebuah perkara yang mudah oleh sebab itu cara yang paling ampuh adalah diam.

[3] Karakter fiktif manga dan animeNoragami yang mengadaptasi Tujuh Dewa Keberuntungan dalam kepercayaan Shinto pada masyarakat asli Jepang. Namun, Kofuku digambarkan sebagai Dewa Pembawa Kesialan yang merupakan parodi dari Ebisu yang juga adalah salah satu dari 7 Dewa Keberuntungan, kelompok dewa yang paling dipuja di Jepang.

[4] Tempat fiktif dalam anime Made in Abyss. Digambarkan sebagai gua yang sangat besar dan dikenal sebagai Abyss adalah satu-satunya tempat di dunia yang belum dijelajahi. Tidak ada yang tahu seberapa dalam lubang titanic ini. Di dalamnya dihuni oleh makhluk aneh yang menakjubkan dan penuh dengan benda-benda misterius peninggalan di masa kuno yang tidak dikenal oleh manusia modern.

[5]Seppuku (切腹) secara harfiah berarti “memotong perut”. Seppuku berasal dari jalan hidup bushido para samurai, yang lebih memilih untuk mati (di tangan sendiri) untuk menjaga kehormatannya daripada ditaklukan oleh musuh. Seppuku dapat dilakukan atas perintah Shogun untuk samurai yang melanggar aturan dan berbuat hal yang memalukan. Seppuku sering dilakukan atas kegagalan menyelesaikan suatu tugas, sebagai bentuk dedikasi.


yahaha, halo halo.. maafkan atas beberapa tulisan tak genah yang up di laman ini beberapa waktu ke belakang atau ke depan. Dreamers bebas meninggalkan krisar!

nah, happy weekend!

Advertisements

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.