[Ori-fict] Kopi dan Senja

photo source here

February 2018©

… Tidak perlu menjadi protagonis yang sok tegar, atau yang terseret gelombang duka berlebihan. Biar saja kopi dan senja yang menyelesaikan semuanya.

.

.

.

Sebuah cerita biasanya diawali dengan perkenalan. Perkenalan tentang nama tokoh, histori, atau latar belakang yang lain. Semuanya terasa klise. Namun, tidak dengan sepotong senja di akhir Sabtu yang menaungi langit Jogja. Tolong beri garis pemisah yang tebal akan hal itu.

Awalan ini bukanlah sebuah perkenalan cerita, tetapi potongan senja di akhir pekan yang diawali dengan secangkir kopi hangat. Kopi hangat yang diseduh oleh barista yang bukan hanya sekadar karena bakat dan trik bagaimana biji kopi tersebut diolah, melainkan bagaimana kenangan atau memori si barista yang menghidupkan cerita setiap cangkir. Kenangan membentuk rasa, memori mengharumkan aroma. Menjadi seorang barista tidak ada bedanya dengan seorang manusia yang dibekali tenaga spiritual. Namun, sampai saat ini ia belum menjumpai seorang psikiater yang mengurusi masalah biji kopi. Yang gila bukan kopinya, tentu, tetapi si psikiater tersebut.

Langit luas dengan semburat jingga tua mengatur jalan pulang untuk mentari kemudian melebur menjadi langit malam biru tua. Tersisa dua puluh menit sebelum matahari terbenam. Saat ini masih senja dan gelas kopi Mira masih setengah kosong. Gelas kopi pertama dari kedai kopi kelima yang telah ia satroni dalam dua hari. Mira menjumput sisa-sisa kemegahan matahari melalui berkas sinar yang melekuk menembus kaca jendela kedai kopi yang letaknya tidak jauh dari Taman Pintar Jogja. Jari-jarinya mengetuk santai tanpa irama. Meja kayu purba yang diketuknya membalas hening. Perempuan itu menyesap kopi Gayo Aceh miliknya. Sensasi pahit menyapa lidah, pahit yang sederhana, kemudian diwarnai dengan rasa manis yang disetel seperti bertahan selama-lamanya. Tidak salah jika kopi Gayo Aceh menjadi pilihan utama Mira, karena memang kopi itulah yang membuat perempuan itu menjadi terobsesi dengan kopi.

Tidak ada yang salah dengan eksistensi biji kopi yang hanya bisa tumbuh minimal pada ketinggian 1000 mdpl, yang salah itu Mira. Kesalahannya adalah terlambat menyadari bahwa kopi memang pantas menjadi pelarian yang terbaik. Walaupun kantung ginjal yang bocor menjadi ancaman, jika menenggak kafein dalam dosis yang lepas dari perkiraan, Mira memilih untuk membutakan mata dan telinganya. ‘Tidak apa. Sehabis minum kopi, aku juga akan minum satu galon air mineral. Jaminan untuk ginjalku agar tidak bocor.’ katanya. Tidak ada yang bisa dicemaskan lagi tentang kopi dan Mira, tantang perempuan itu terhadap dirinya sendiri. Sebab kopi tidak akan langsung membawamu untuk dibakar api neraka hidup-hidup.

Dua hari pengembaraannya di Jogja sebagai pemburu kopi selalu menyudutkan perempuan itu dengan akhir senja. Seakan kopinya ditakdirkan untuk menggiring senja melipat diri. Mira tidak yakin benar begitu. Sebuah cincin yang melingkar di jari manis miliknya ia puntar-puntir permukaannya. Sekadar mendiskusikan masa depan cincin itu seorang diri. Atau lebih tepatnya lagi masa depan Mira.

Tiba-tiba pintu bercat hitam mengilat yang di atasnya dibekali bel berderik dan berdering. Menampakkan pria dengan kaus abu-abu berlengan panjang beringsut duduk di seberang kursi Mira. Tidak ada yang kelabu dari wajah pria itu. Yah, kecuali hanya pakaian yang ia kenakan barangkali. Entah, kelabu pada wajah itu dibolehkan atau tidak. Biar Mira yang jawab saja.

“Hai, sudah lama?”

“Lumayan.”

Pria itu melirik kopi separuh kosong di hadapannya. Tersenyum simpul sambil membawa lengannya ke atas dada, melipatnya. Kemudian ia menjelajahi rupa perempuan yang duduk diam di hadapannya. Bahkan jauh lebih pekat kelabu yang ia rasakan pada diri gadis itu dibanding mega mendung yang menaungi langit Jogja tiga hari ke belakang. Namun, sekarang kelabu itu sedikit memudar entah karena kontraksi dengan kopi pahit, kenangan lusuh, senja berbahaya, atau kenyataan yang menyeret perempuan itu untuk jauh-jauh pergi ke Jogja.

“Sepertinya ini masih gelas pertama.”

“Memang. Bisa juga ini akan jadi gelas terakhir.” Mira menopang pipi dengan tangan kiri sementara tangan kanannya mengaduk-aduk kopi yang sudah agak dingin. Ia menatap malas lawan bicara di hadapannya. “Menurutmu sendiri gimana, Fathir?”

Pria yang disebut Fathir oleh Mira hanya merespon dengan sebilah senyum simpul. Fathir membebaskan lipatan tangan di dada. Jemarinya berangsur mendekati cangkir kopi Mira yang dingin, memeluknya. Pria itu lalu menyesapnya dan kepalanya meneleng sambil bergumam tidak jelas.

“Kopi Gayo yang malang. Kamu mengacaukannya selagi masih panas, itu tidak baik.” komentar Fathir.

“Tidak akan terjadi lagi, sebab ini yang terakhir.” balas Mira.

Selanjutnya percakapan basa-basi dua teman lama seperti tidak bertemu sewindu penuh mengalir. Namun, lebih banyak didominasi oleh kekhawatiran pria itu terhadap tindakan Mira yang terbilang cukup nekad. Mengitari Jogja seorang diri, tanpa pengalaman, tanpa perlindungan, demi secangkir kopi. Tidak gampang dimaklumi akal sehat. Fathir sendiri tidak tahu pasti penyebab Mira memilih untuk lari dari Jakarta dan tiba-tiba saja mengambil cuti seminggu penuh tanpa pemberitahuan kepadanya. Tidak tahu bahwa teman sejak bangku sekolah dasar itu tiba-tiba saja berevolusi menjadi maniak kopi dalam satu bulan ke belakang. Namun, tidak sampai dini hari tadi ketika perempuan itu mengebel ponsel Fathir. Sebelum hening yang panjang berakhir di seberang telepon, Mira pun menyudahinya dengan, “Jemput aku di Jogja. Lalu antar aku pulang ke rumah Mama. Sebelum itu, antar aku ke pengadilan dulu ya. Aku mau kirim surat buat Mas Delan.”

Jelas yang dimaksud surat oleh Mira bukan sekadar surat cinta. Siapa pula yang ingin mengirim surat cinta lewat pengadilan. Mendengarnya saja, pria itu langsung dilanda sesak yang tidak terbantahkan. Tidak sampai sedetik sebelum Mira selesai dengan teleponnya, Fathir meminta agar gadis itu tetap di Jogja sampai ia datang menjemputnya. Maka, Fathir langsung meluncur ke Cengkareng. Mencari penerbangan paling cepat ke Kota Gudeg tersebut. Tidak sampai satu jam kedatangannya di bandar udara Adi Sucipto, ia langsung melenggang menuju sentral Jogja. Dihubunginya Mira, tetapi tidak kunjung mendapat jawaban. Gadis itu sengaja mematikan ponsel. Setelah berputar-putar hampir seharian di Jogja mencari keberadaan Mira tanpa petunjuk sama sekali, di penghujung hari, Fathir pun menemukan sesosok bayangan di balik kaca jendela, menyelami lembayung senja dengan tatapan yang murung dan secangkir kopi dingin.

Namun, lelaki itu tidak dapat menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan di hadapan gadis itu. Makanya ia hanya menyapa gadis itu dengan santai. Seolah-olah ia adalah teman lama yang janjian untuk bertemu, bukan teman lama yang mati-matian khawatir dan hampir gagal jantung karena Mira tiba-tiba lari tanpa jejak ke Jogja.

“Mau aku pesanin kopi ini juga? Aku yang traktir.” tawar Mira tanpa menatap pria yang ada di hadapannya.

“Ngga, terima kasih, Non. Aku ngga ingin ginjalku bocor karena kopi.”

“Secangkir kopi tidak akan membuatmu langsung masuk neraka hidup-hidup, kok.”

“Tetapi mampu membuat seseorang yang aku kenal terbang jauh-jauh dari Jakarta sampai ke Jogja. Yah, kopi Gayo ini misalnya.”

Mira tidak mampu membalas perkataan Fathir. Ia membiarkan tiap kata dalam dua kalimat teman akrabnya itu menelan dirinya hidup-hidup di dalam jurang dalam yang tidak berujung. Untuk saat ini saja, ia ingin hilang dan tenggelam tanpa ada keinginan untuk timbul. Kenyataannya, kopi dan senja membuat Mira merasa muak. Dan sedihnya, gadis itu tidak dapat berbuat apa-apa. Menerima kenyataan terlalu sulit, terlebih kenyataan itu juga yang menyeret kaki dan bokongmu menyusuri tiap kedai kopi di Kota Pelajar ini demi mereka. Ini usaha pertama dan terakhirku, batin Mira.

“Aku ingin melihat sendiri dengan kepalaku bagaimana rupanya. Seperti apa orang yang berhasil menerima kurang dan lebihnya Mas Delan selain aku dan orangtuanya.”

Wajah pria itu mengeras. Entah setan sinting dari mana yang berhasil menguasai Mira sampai mampu berbuat seekstrim ini. Tidak, ini bukan saatnya ia membebankan salah kepada perempuan itu. Mira tidak pernah salah, laki-laki yang disebut suami tetapi juga brengsek itu yang salah. Respon cepat membawa pria itu menarik kedua tangan Mira yang saling bertaut keras di atas meja, merengkuhnya ke dalam genggamannya. Mengusir tanpa jejak duka yang menjejali tiap ruas jari-jemari perempuan itu. Mira merasa hangat dalam genggaman pria itu. Walaupun sempat tersentak akibat perlakuan Fathir yang tiba-tiba, Mira tidak mempermasalahkannya. Yang menjadi masalah saat ini bukan Fathir, tetapi perselingkuhan suaminya, Delan, dengan salah satu barista di kedai kopi ini.

“Aku ngga bakal berbuat macam-macam. Kamu ngga perlu berpikir terlalu jauh.” ujar Mira seraya menenangkan Fathir.

“Yah, tentu saja. Kalau sampai kamu berbuat yang macam-macam, aku ngga akan segan-segan jadi orang pertama yang akan seret kamu ke polsek terdekat. Tanpa ragu.”

Untuk pertama kalinya dalam sebulan, kotak tertawa milik Mira hidup kembali. Entah apakah bercanda di saat seperti ini dibolehkan, siapa juga yang ingin melarang, Mira tertawa mendengar ultimatum Fathir. Ia tertawa dengan puas dalam waktu yang cukup lama. Fathir masih lekat mengamatinya. Mira masih tertawa dan tiba-tiba saja tawa itu pecah menjadi tangis yang cukup membuat seisi kedai menoleh dan memusatkan atensi terhadap mereka berdua.

“Fat, makasih, ya.”

“Aku belum menonjok muka Delan sampai bonyok. Sebelum itu terjadi, simpan ucapan terima kasihmu.”

Fathir mengeratkan rengkuhan pada jari-jemari Mira yang bermandikan sinar matahari sore yang terbenam tanpa ragu dan berlabuh di sepasang mata perempuan itu. Segenap kekuatan ia berikan kepada Mira agar tetap berdiri dengan kepala tegak. Menegaskan bahwa perpisahan yang dialami Mira bukanlah sesuatu yang menyedihkan untuk diratapi. Ini bukan kekalahan Mira sebagai isteri, tetapi kemenangan Mira sebagai perempuan.

Setelah berjanji tidak akan lama kepada pria jangkung tersebut, Mira melesat ke konter barista. Ia pun dihadapkan dengan sesosok perempuan berambut pendek sebahu, berkacamata, tersenyum dengan manis kepadanya. Mira membaca bros nama yang tersemat di celemek sang barista, Andira, namanya bahkan lebih bagus dari punyaku.

“Selamat datang di Kopi 28, ada yang bisa saya bantu?”

One take away iced coffee Gayo with caramel sauce, middle sugar, and full ice, please.”

“Oke. Namanya, Mbak?”

“Delan.”

Sang gadis barista sempat terhenti untuk mengayunkan spidol di gelas transparan, sebelum memastikan ia tidak salah dengar. Menyembul rona merah pada kedua pipi sang barista. Seolah menyembunyikan hal spesial di balik nama yang ia dengar, ia melanjutkan tulisannya.

“Sama tulis pesan sekalian. Bisa, Mbak?”

“Tentu saja, bisa.” Jawab sang barista masih dengan senyum.

“Tolong tulis, hope you’re always happy, eventhough it is not with me anymore. Sincerely, your soon to be ex wife.” Cincin yang melingkar di jari telunjuk perempuan itu dibebaskan lalu diletakkan di atas meja konter beserta selembar uang lima puluh ribuan. “Tolong beri kopi ini ke Mas Delan saat dia ke sini ya, Andira.”

Selanjutnya bisa diterka apa yang terjadi. Sang barista menatap kepergian Mira dan cincin yang mematung di atas meja bergantian. Bibirnya seperti diberi lem super, tidak bisa ia gerakkan. Kakinya menancap dalam ke bumi, sehingga ia tidak bisa mengangkatnya sama sekali.

Demikian waktu Mira dan Fathir berjalan bersisian di sepanjang jalan dengan kolase langit senja dan muadzin yang berkumandang, keduanya sudah mantap untuk sama-sama mengambil cuti satu minggu dadakan yang bisa berakhir teguran atasan. Namun, perempuan itu sudah telanjur mantap mengakhiri sesuatu yang ironisnya sudah lama berakhir dengan tangannya sendiri. Walaupun dalam hati ia diam-diam mengakui bahwa tindakan ini sungguh kekanak-kanakkan, ia tetap melakukannya. Tidak perlu menjadi protagonis yang sok tegar, atau yang terseret gelombang duka berlebihan. Biar saja kopi dan senja yang menyelesaikan semuanya.[]

Advertisements

3 Replies to “[Ori-fict] Kopi dan Senja”

  1. Wokeh, aku di awal speechless duluan sama fakta mira minum kopi di 5 kedai selama dua hari. Apa kabar itu kantung mata melek terus kann??
    Trus aku udh nebak masalah yg mendera mira, pasti rmh tangga nih.
    Trus tambah speechless lagi pas dengan santainya mira ngomong di kasir itu, ya ampun badas gila dia, sumpah aku suka gayanya ngelabrak tapi dengan cara yg cool. Dalem ati ikut ngumpat ‘mampus lu andira’
    Makasih bikin pagiku berwarna pas lagi suntuk di kantor, duh, jadi pengen ngopi juga

    Liked by 1 person

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.