[Playlist-Fict] #59: Just One

Playlist-Fict No. #59: Just One

Kantai Collection: Movie OST by Shiena Nishizawa

Saat aku menghitung dan membandingkan jumlah saat aku tersenyum dan bersedih malah menimbulkan perasaan kesal di dalam diriku.

(2016)

.

Part of Playlist-Fict

.
.

Saat senja memucat di ufuk barat atap kapas tak berbatas yang menaungi kota ini, langkah sepatu kusut bergema di jalan sempit dan sepi. Aku berjalan dengan gerakan super malas dan lambat tanpa tahu ingin pergi ke mana. Sesungguhnya berjalan tanpa tujuan mampu melenyapkan diafragma, sehinga menyebabkan sesak di dada. Merasa sesak bukan karena letih, melainkan tidak adanya tempat yang dituju. Merasa sakit dada bukan karena saluran bronkis mengempis, melainkan tidak punya cara yang tepat untuk mengungkapkan bagaimana hari-hari yang beruntung tetap berakhir menyedihkan itu tetap dijalani. Bagaimana masa-masa muda yang dihabiskan dengan gerombolan ketidakpuasan masif yang selalu mengikuti. Sungguh jika harus dihitung berapa perbandingan hal-hal menyenangkan dan hal-hal menyedihkan, aku tak sanggup. Sebab, yang ada aku malah kesal tidak karuan.

Mencoba ini-itu dengan usaha sebaik-baiknya, di mata orang lain nilainya tetap saja menjadi sebuah arus negatif yang mampu mendendangmu ke tapal batas antah berantah. Seakan-akan menyambung hidup dengan cara paling sederhana adalah usaha sebaik-baiknya memoles batu kerikil hitam lusuh menjadi butiran berlian yang nilainya setinggi pintu langit pertama, itu hanya jika kalian pernah bertapa di sana. Menjadi baik bukan pilihan yang tepat untuk bertahan di dunia yang sudah berputar dengan cara yang keji seperti ini. Maka dari itu, daripada melakukan hal-hal yang biasanya aku bisa, lebih baik tidak melakukan apa-apa sama sekali. Lebih baik menyanyi tanpa nada, tanpa lirik, tanpa lagu di dalam buaian angina lembut yang kehilangan jalan pulang.

Seperti halnya yang terjadi pada hari ini. Ketika jumlah hal yang aku tahu bertambah banyak seiring dengan hal yang aku lupa, aku sadar bahwa aku takkan pernah bisa menjadi dewasa. Heran, aku malah senang tidak bisa menjadi dewasa. Menjadi orang dewasa berarti menjadi orang bodoh dan memakan omong kosong dari buah ketidakbenaran impulsif sudah sewajarnya tercetak dengan sempurna di setiap tangga kehidupan seorang manusia. Dan, mau bagaimana pun juga setiap orang hanya memiliki satu hati, dan satu hati itu tidak selalu menggelinding ke jurang kebodohan seperti yang lain. Bahkan kerap tidak terpetakan keberadaannya, meskipun berada di dalam jarak yang dekat.

Kelemahan, kekuatan, dan segala yang menonjol dalam diri seseorang justru akan sungguhan terlihat ketika orang tersebut kehilangan dan mencoba untuk mencarinya kembali. Sungguh banyak sekali hal-hal miring yang keluar dari garis kewarasan dewasa ini. Padahal, dahulu kupikir itu hanya satu, yakni ketika alasan sudah tidak dibutuhkan untuk melenyapkan nyawa ibu oleh ayahku sendiri.

Senja yang menipis di ujung hari membawa angin dingin yang menampar punggungku. Mendorong sedikit atau lebih banyak agar langkah kaki ini membawaku menuju tempat yang tidak dituju atau bahkan tidak terdapat di dalam peta. Selalu menunggu sambil berlari; membuatku tidak akan pernah menemukan akhir dalam penantian panjang ini. Selalu menunggu tanpa tujuan benar-benar aneh tanpa perlu dipastikan sekali lagi. Sebab, jika benar kehidupan yang dijalani semua orang memiliki nilai yang sama dan batas kebodohan yang sama, tidak apa-apa kalau seseorang menginginkan segalanya bukan hanya satu saja untuk sampai pada realitas fatamorgana yang menyerbu seperti pelukan teman lama.[]

Advertisements

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.